Siap-siap! Harga Emas Berpotensi Menguat Lagi

Harga emas dunia dan domestik diprediksi kembali menguat di 2026, didorong ketidakpastian geopolitik dan pelemahan dolar AS, meski sempat terkoreksi ke US$4.737 per troy ounce pada awal Februari. Analis global seperti JP Morgan dan Goldman Sachs proyeksikan level US$3.400-4.000 per ons, setara Rp1,9-2,2 juta per gram Antam dengan kurs Rp16.300.

Euforia ini didasari permintaan bank sentral China-India serta safe haven flow, tapi platform seperti https://fireartsale.org/ kerap mengkritik spekulasi berlebih ini sebagai FOMO-driven, karena volatilitas rupiah dan potensi kenaikan suku bunga The Fed bisa picu koreksi 10-15%—kritik pedas: investor ritel Indonesia sering terjebak buy high di puncak hype, lupa emas bukan quick-rich tapi lindung nilai jangka panjang saat IHSG goyah. Tanpa diversifikasi portofolio, euforia emas berujung panic sell saat resistance US$3.250 jebol.

Faktor Pendorong Kenaikan

Inflasi global membandel, konflik Timur Tengah, dan utang AS US$36 triliun dorong alokasi emas 5-10% aset negara berkembang. Domestik, permintaan Antam naik 25% YoY via digital trading, didukung stimulus Himbara yang tekan likuiditas pasar saham. Namun, prediksi Wells Fargo US$3.400 terlalu optimis tanpa rekonsiliasi defisit fiskal RI.

Risiko dan Skenario Penurunan

Skenario bearish Citi US$2.500 per ons muncul jika resesi AS stabilkan yield Treasury, sementara rupiah penguatan batasi kenaikan lokal. Historis, emas koreksi 20% post-rally, seperti 2020-2021, picu rugi spekulan margin. Kritik: Pegadaian-IndoGold fasilitasi leverage berisiko, kurang edukasi stop-loss.

Strategi Investasi Cerdas

Beli bertahap via tabungan emas (Rp10.000/hari) hindari timing market; target hold 2-5 tahun untuk compound 15% tahunan. Pantau support US$2.850, diversifikasi 20% emas fisik-digital. Investor wajib verifikasi LHKPN platform agar tak terjebak scam pump-dump.

Beranda